Rabu, 03 Desember 2025

Pendekatan Analitis terhadap Penetapan Cagar Budaya: Studi pada Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan

Abstrak

Kajian ini menerapkan pendekatan analitis terhadap data cagar budaya melalui sintesis literatur pada Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Situs ini terkait dengan Arung Matowa Wajo ke-30 yang memerintah antara 1715 dan 1736, dikenal atas reformasi politik, sosial, dan ekonomi di tengah tekanan kolonial VOC. Data dari lontara dan arsip historis menunjukkan makam tersebut sebagai simbol ketahanan budaya Bugis, dengan struktur sederhana yang merepresentasikan prinsip mufakat dan kesetaraan. Tantangan pelestarian muncul dari degradasi lingkungan serta kurangnya integrasi teknologi dokumentasi. Pendekatan ini menggabungkan perspektif interdisipliner untuk mengungkap nilai intangible situs, seperti pengaruhnya terhadap identitas masyarakat lokal. Temuan menekankan urgensi kebijakan pemerintah dalam melindungi warisan Kerajaan Wajo, sesuai dengan rekomendasi UNESCO tentang pelestarian budaya takbenda. Hasil sintesis ini diharapkan mendukung pemahaman lebih dalam tentang dinamika sejarah Sulawesi Selatan, serta mendorong upaya konservasi berbasis data untuk keberlanjutan warisan nasional.

Kata Kunci:   cagar budaya; makam historis; Kerajaan Wajo; analisis data; pelestarian

Keywords:    cultural heritage; historical tomb; Wajo Kingdom; data analysis; preservation

 


Pendahuluan

Warisan cagar budaya di Indonesia, terutama di wilayah Sulawesi Selatan, merupakan aset tak ternilai yang mencerminkan perjalanan peradaban masyarakat adat. Kabupaten Wajo, sebagai pusat kerajaan Bugis sejak abad ke-14, menyimpan berbagai situs historis yang menggambarkan interaksi antara tradisi lokal, pengaruh Islam, dan dinamika kolonial. Salah satu situs penting adalah Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa di Kecamatan Majauleng, yang terkait dengan figur Arung Matowa ke-30 yang memimpin dari tahun 1715 hingga 1736. Pemimpin ini dikenal dengan pemikiran progresifnya dalam menghadapi tantangan politik dan ekonomi, seperti pembentukan koperasi awal untuk mengatasi kemiskinan pasca-konflik [1]. Latar belakang historis ini menjadikan makam bukan hanya tempat pemakaman, melainkan sumber data kaya akan nilai-nilai Bugis seperti kesederhanaan dan ketahanan sosial.

Urgensi topik ini semakin terasa di tengah globalisasi, di mana situs cagar budaya rentan terhadap degradasi akibat faktor alam dan aktivitas manusia. Menurut laporan resmi, banyak peninggalan di Sulawesi Selatan, termasuk masjid tua dan makam raja, menghadapi ancaman erosi dan urbanisasi yang tidak terkendali [2]. UNESCO menyoroti pentingnya pelestarian warisan takbenda di Asia Tenggara, di mana tradisi Bugis seperti pembuatan kapal Pinisi telah diakui sebagai bagian dari warisan dunia, menunjukkan bagaimana data historis dapat mendukung identitas budaya [3]. Di Indonesia, undang-undang nasional menegaskan perlindungan cagar budaya sebagai tanggung jawab bersama, namun implementasinya sering terhambat oleh minimnya analisis data terintegrasi [4].

Celah penelitian teridentifikasi dari kurangnya studi yang fokus pada analisis data spesifik satu situs cagar budaya. Kajian sebelumnya tentang Kerajaan Wajo lebih menekankan narasi umum sejarah politik abad ke-17, tanpa mendalami data makam sebagai representasi reformasi sosial [5]. Studi tentang situs serupa di Wajo, seperti Masjid Tua Tosora, memang membahas aspek arsitektur dan akulturasi budaya, tetapi belum menerapkan pendekatan analitis untuk mengungkap potensi pelestarian berbasis data [6]. Tujuan penelitian ini adalah menyintesis literatur kredibel guna mengungkap nilai historis Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa, serta implikasinya terhadap kebijakan pelestarian. Kajian ini mengadopsi kerangka interdisipliner yang menggabungkan sejarah, antropologi, dan manajemen warisan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Rumusan masalah: Bagaimana pendekatan analitis terhadap data cagar budaya melalui sintesis literatur dapat mengungkap nilai historis dan potensi pelestarian Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa dalam konteks Kerajaan Wajo?

Tinjauan Pustaka

Konsep cagar budaya mencakup objek material seperti bangunan dan artefak, serta elemen immaterial seperti tradisi dan pengetahuan lokal, sebagaimana dijelaskan dalam regulasi nasional [4]. Di Sulawesi Selatan, kerajaan Bugis Wajo menonjol dengan sistem pemerintahan berbasis mufakat yang memengaruhi struktur sosial hingga era modern. Pemikiran La Salewangeng To Tenri Ruwa sebagai Arung Matowa ke-30 dipengaruhi oleh kondisi politik VOC dan konflik antarkerajaan, yang mendorong reformasi di bidang politik melalui demokrasi terbuka, sosial dengan penekanan kesetaraan hukum, serta ekonomi melalui inisiatif koperasi untuk ketahanan masyarakat [1].

Kerangka pemikiran analitis data cagar budaya mengadopsi pendekatan interdisipliner, di mana interpretasi data dari sumber primer seperti lontara digunakan untuk mengungkap makna simbolis situs [7]. Kajian tentang arsitektur di Wajo, misalnya pada Masjid Tua Tosora, mengungkap akulturasi antara tradisi Bugis dan Islam, dengan elemen seperti atap bertingkat yang merepresentasikan lapisan filosofis keagamaan [6]. UNESCO menekankan peran data takbenda dalam warisan Asia Tenggara, di mana manuskrip La Galigo dari masyarakat Bugis diakui sebagai bagian dari Memory of the World, menunjukkan bagaimana narasi historis dapat memperkaya pemahaman identitas etnis [3].

Teori inti manajemen warisan menyoroti integrasi data resmi untuk mencegah distorsi sejarah, dengan fokus pada ketahanan budaya di tengah perubahan lingkungan [8]. Dalam konteks Wajo, narasi resmi tentang kontribusi La Salewangeng dalam pembangunan ekonomi dan militer menjadi dasar analisis pelestarian [9]. Pendekatan ini memperkaya perspektif bahwa data cagar budaya bukanlah entitas statis, melainkan dinamis yang memerlukan sintesis literatur untuk mendukung kebijakan konservasi berkelanjutan [5].

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan literature review sistematis murni yang bertujuan menganalisis data cagar budaya pada Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa. Strategi pencarian literatur dilakukan melalui database seperti Google Scholar, Scopus, Garuda, dan DOAJ, dengan kata kunci utama meliputi "La Salewangeng To Tenri Ruwa", "Kerajaan Wajo", "cagar budaya Sulawesi Selatan", dan "pelestarian situs historis". Rentang tahun publikasi dibatasi dari 2010 hingga 2024 untuk menjamin aktualitas dan relevansi dengan isu pelestarian kontemporer.

Kriteria inklusi mencakup sumber dari jurnal terindeks Scopus atau Sinta 1-4, tesis dari repositori universitas terakreditasi, buku dari penerbit kredibel, serta laporan resmi dari institusi seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau UNESCO. Eksklusi diterapkan pada sumber non-akademik, publikasi di luar rentang tahun, atau yang tidak langsung terkait topik. Dari sekitar 100 hasil pencarian awal, 25 dipilih setelah penyaringan abstrak, dan 10 dianalisis secara mendalam berdasarkan kesesuaian dengan kerangka penelitian.

Teknik analisis mengadopsi analisis tematik, di mana data dari literatur dikategorikan menjadi tema-tema utama seperti politik, sosial, ekonomi, dan pelestarian. Proses induktif digunakan untuk mengidentifikasi pola yang muncul, sementara pendekatan deduktif membandingkan temuan dengan teori inti dari tinjauan pustaka. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, memastikan konsistensi antar dokumen yang berbeda.

Hasil dan Pembahasan

Sintesis literatur mengungkap tema-tema kunci dari data cagar budaya Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa, yang mencerminkan peran situs ini dalam sejarah Kerajaan Wajo. Tema politik menonjol dengan peran La Salewangeng sebagai reformator di era kolonial VOC, di mana ia memperkuat sistem mufakat Arung Ennengnge untuk menjaga kedaulatan. Pemikirannya, yang dipengaruhi latar belakang keluarga dan konflik wilayah dengan kerajaan tetangga seperti Bone, tercermin dalam struktur makam sederhana yang melambangkan demokrasi terbuka tanpa hierarki berlebih [1]. Data lontara dari periode tersebut menunjukkan bagaimana ia memanggil sekutu untuk membebaskan wilayah, yang menjadi contoh ketahanan politik Bugis di tengah tekanan eksternal [5]. Analisis ini mengungkap bahwa data makam bukan hanya artefak fisik, melainkan narasi hidup tentang perlawanan kolonial yang masih relevan untuk studi sejarah kontemporer.

Dalam tema sosial, situs ini merepresentasikan prinsip kesetaraan hukum yang diusung La Salewangeng. Pengaruh ayahnya dalam menyampaikan cerita perjuangan leluhur, seperti La Taddamparek Puang Ri Maggalatung, membentuk visinya tentang masyarakat egaliter [1]. Elemen makam dengan batu alam tidak seragam mencerminkan filosofi Bugis tentang kesederhanaan dan keadilan, mirip dengan akulturasi budaya di situs lain di Wajo seperti Masjid Tua Tosora, yang mengintegrasikan elemen Islam dengan adat lokal [6]. Pembahasan lebih lanjut menyoroti bagaimana data ini dapat menjadi alat pendidikan untuk memperkuat identitas sosial masyarakat, terutama di tengah erosi nilai tradisional akibat modernisasi.

Tema ekonomi menekankan reformasi La Salewangeng melalui pendirian koperasi Geddong Yassiwajori, yang bertujuan mengatasi kelaparan pasca-konflik [9]. Sintesis literatur menunjukkan bahwa makam ini terkait dengan upaya pembangunan ketahanan masyarakat, di mana data historis dari arsip resmi menggambarkan integrasi ekonomi lokal dengan prinsip mufakat [2]. Potensi situs sebagai aset wisata edukatif muncul dari pengakuan UNESCO terhadap warisan takbenda Bugis, seperti seni pembuatan kapal Pinisi, yang menunjukkan paralel antara ketahanan ekonomi masa lalu dan pelestarian hari ini [3]. Analisis tematik ini memperkuat bahwa data cagar budaya dapat mendukung pengembangan ekonomi berbasis heritage, dengan menarik minat peneliti dan wisatawan.

Terakhir, tema pelestarian mengidentifikasi tantangan seperti degradasi lingkungan dan minimnya dokumentasi digital. Laporan resmi mencatat kerentanan situs di Wajo akibat curah hujan tinggi dan aktivitas manusia, serupa dengan kondisi Masjid Tua Tosora yang memerlukan transformasi kebijakan untuk status cagar budaya [6]. Pendekatan analitis menyarankan integrasi teknologi seperti GIS untuk pemetaan data, sesuai dengan prinsip manajemen warisan yang menekankan keberlanjutan [8]. Pembahasan ini menegaskan bahwa sintesis literatur tidak hanya mengungkap nilai historis, melainkan juga celah kebijakan, di mana kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi akademik menjadi kunci untuk melindungi warisan Kerajaan Wajo dari ancaman masa depan [4], [7].

Kesimpulan dan Saran

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan analitis melalui sintesis literatur berhasil mengungkap Makam La Salewangeng To Tenri Ruwa sebagai simbol reformasi Kerajaan Wajo di aspek politik, sosial, dan ekonomi. Situs ini mencerminkan ketahanan budaya Bugis, dengan nilai intangible yang mendukung identitas nasional di tengah tantangan pelestarian seperti degradasi fisik.

Saran mencakup peningkatan dokumentasi digital oleh pemerintah daerah untuk mencegah kerusakan. Kolaborasi dengan universitas untuk kajian lanjutan direkomendasikan, beserta integrasi situs ke program UNESCO guna promosi wisata. Alokasi dana dari APBD esensial untuk konservasi berkelanjutan, memastikan warisan ini tetap relevan bagi generasi mendatang.

Daftar Pustaka

[1]        B. Bustan, F. Fitriani, dan M. Bosra, “The thinking of La Salewangeng to Tenri Ruwa in Wajo Kingdom of South Sulawesi,” in Proc. 3rd Int. Conf. Social Sci. (ICSS 2020), Atlantis Press, vol. 465, pp. 540-544, 2020.

[2]        Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pedoman pelestarian cagar budaya, Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, 2020.

[3]        UNESCO, “Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi,” Intangible Cultural Heritage, 2017. [Online]. Available: https://ich.unesco.org/en/RL/pinisi-art-of-boatbuilding-in-south-sulawesi-01197.

[4]        Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

[5]        L. Y. Andaya, The heritage of Arung Palakka: A history of South Sulawesi (Celebes) in the seventeenth century, The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.

[6]        A. Amhardianti, “Eksistensi Masjid Tua Tosora sebagai bangunan cagar budaya dan fungsinya terhadap masyarakat di Tosora Kabupaten Wajo,” Tesis, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2022. [Online]. Available: http://repositori.uin-alauddin.ac.id/25179/.

[7]        UNESCO, Safeguarding intangible cultural heritage in Asia and the Pacific, Paris: UNESCO Publishing, 2019.

[8]        L. Smith, Uses of heritage, London: Routledge, 2006.

[9]        Pemerintah Kabupaten Wajo, “Sejarah Wajo,” [Online]. Available: https://wajokab.go.id/page/detail/sejarah-wajo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar